“Yang fana adalah waktu, kita abadi” kutipan ini mengajak kita merenungkan hubungan manusia dengan waktu, dengan kematian, dan dengan makna hidup yang melampaui usia raga.

Sekilas, kalimat ini terdengar paradoks. Bukankah justru manusialah yang fana, sementara waktu terus berjalan tanpa henti? Bukankah manusia lahir, menua, lalu mati, sementara waktu seakan tidak pernah berakhir? Namun, di sinilah kedalaman maknanya mulai terbuka.

Waktu memang terus mengalir, tetapi setiap detiknya segera lenyap. Saat ini hanya sesaat, lalu menjadi masa lalu yang tak bisa kembali. Tahun berganti, musim berlalu, peristiwa datang dan pergi. Waktu bersifat rapuh: ia ada, tetapi selalu hilang begitu kita menyadarinya. Dalam arti ini, waktu justru sangat fana.

Manusia, sebaliknya, memang fana secara jasmani, tetapi memiliki sesuatu yang dapat melampaui waktu. Pikiran, gagasan, karya, cinta, nilai, dan ingatan dapat hidup jauh lebih lama daripada tubuh kita. Seseorang bisa wafat ratusan tahun lalu, tetapi kata-katanya masih dibaca, karyanya masih dinikmati, dan pengaruhnya masih membentuk dunia hari ini.

Di sinilah manusia menjadi “abadi” dalam arti yang lebih dalam. Bukan abadi secara fisik, tetapi abadi dalam jejak makna. Setiap kebaikan yang kita lakukan, setiap ilmu yang kita bagikan, setiap kasih yang kita tanam, dapat hidup di dalam orang lain jauh setelah kita tiada. Waktu boleh berlalu, tetapi makna bisa bertahan.

Kutipan ini juga mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari lamanya usia, tetapi dari kedalaman pengaruh. Seseorang yang hidup singkat bisa menjadi lebih “abadi” daripada seseorang yang hidup lama tetapi tidak meninggalkan apa-apa. Keabadian bukan soal panjang umur, tetapi soal apa yang kita wariskan kepada dunia.

Melalui kalimat ini, kita diajak mengubah cara memandang waktu. Waktu tidak harus kita lawan, karena ia memang akan berlalu. Yang bisa kita lakukan adalah mengisi waktu itu dengan sesuatu yang layak dikenang.

Sebab mungkin benar, waktu akan terus lenyap, detik demi detik. Tetapi manusia. melalui cinta, pikiran, karya, dan nilai memiliki kesempatan untuk hidup melampaui waktu.

Dan di sanalah letak keabadian kita yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *