Di sebuah dunia yang gemar berdebat tentang siapa yang paling benar, Gus Dur mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupakan! manusia. Kebenaran, betapapun kokohnya ia berdiri di atas dalil, hukum, atau ideologi, akan kehilangan maknanya ketika ia menjauh dari rasa kemanusiaan. Sebab kebenaran sejati tidak pernah lahir untuk melukai, merendahkan, atau meniadakan sesama. Ia hadir untuk merawat martabat, menenangkan luka, dan menjaga harapan.

Sering kali, kebenaran dipakai seperti palu keras, memaksa, dan tak memberi ruang bernapas. Atas namanya, orang dihakimi, perbedaan disingkirkan, dan kasih sayang dianggap kelemahan. Di titik inilah Gus Dur berdiri, menolak kebenaran yang dingin dan kaku. Baginya, kebenaran harus hangat, mampu menyapa manusia apa adanya, dengan segala kekurangan dan keunikan. Jika tidak, maka itu bukan kebenaran, melainkan kesombongan yang menyamar.

“Kebenaran yang tidak memanusiakan manusia bukanlah kebenaran,” bukan sekadar kalimat bijak ia adalah cermin. Cermin bagi cara kita beragama, berpendapat, dan memperlakukan orang lain. Ia mengajak kita bertanya ulang apakah yang kita yakini membuat dunia lebih adil, lebih ramah, dan lebih manusiawi? Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu dikoreksi bukan manusia lain, melainkan cara kita memahami kebenaran itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *