Politik tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling rasional, paling jujur, atau paling masuk akal. Sejarah justru sering menunjukkan sebaliknya! mereka yang waras, yang masih setia pada etika dan akal sehat, kerap tersingkir oleh kelompok yang lebih kompak, lebih solid, dan lebih siap mengorbankan segalanya demi kemenangan. Dalam dunia kekuasaan, kebersamaan tanpa nurani sering lebih kuat daripada kewarasan tanpa dukungan.

Orang-orang yang waras biasanya berpikir panjang. Mereka ragu sebelum bertindak, menimbang sebelum memutuskan, dan enggan menghalalkan cara. Mereka ingin adil, ingin benar, ingin bersih. Tetapi justru karena itulah langkah mereka sering lambat dan sendirian. Sementara itu, kelompok yang kompak bergerak cepat, saling melindungi, dan tidak mudah goyah oleh pertanyaan moral. Yang satu sibuk menjaga nurani, yang lain sibuk menjaga barisan.

Kekompakan, dalam politik, adalah senjata yang dahsyat. Ia menciptakan ilusi kebenaran lewat jumlah. Ketika banyak orang bersuara sama, kebohongan bisa tampak sebagai fakta, dan kesalahan bisa tampak sebagai kebijakan. Mereka yang waras sering tersudut, bukan karena salah, tetapi karena tidak punya cukup sekutu untuk mempertahankan kebenaran mereka.

Di titik ini, politik memperlihatkan wajah paling ironisnya. Yang kalah bukan karena lemah akal, melainkan karena lemah dukungan. Yang tersingkir bukan karena salah jalan, melainkan karena berjalan sendirian. Dan yang menang bukan selalu yang benar, melainkan yang paling rapi menyusun barisan.

Namun kutipan ini bukan ajakan untuk menyerah pada kekompakan buta. Ia justru peringatan bahwa kewarasan dalam politik tidak cukup jika berdiri sendiri. Akal sehat harus belajar membangun jaringan, merawat solidaritas, dan menyusun barisan kebaikan. Sebab jika tidak, politik akan terus dimenangkan oleh mereka yang kompak dalam kepentingan, sementara yang waras tinggal menjadi penonton sejarah.

Dan pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling benar, tetapi:apakah kewarasan mau belajar menjadi kompak tanpa kehilangan nurani?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *